Selamat datang di Website BAPPELITBANGDA Kabupaten Majalengka sejarah kabupaten majalengka
E-mail Print PDF

SEJARAH KABUPATEN MAJALENGKA

Pondopo Kabupaten Majalengka

 

Sampai abad ke XV kawasan Kabupaten Majalengka sekarang, terdapat beberapa kerajaan Hindu, sekalipun tidak semua kerajaan tersebut sempat meninggalkan data-data sejarah secara kuat. Adapun kerajaan dimaksud sebagai berikut :

1. Kerajaan Rajagaluh

Kerajaan Rajagaluh terletak di Kawasan Rajagaluh sekarang, saat itu dipegang oleh Prabu Cakraningrat. Sampai sekarang belum dapat terungkap secara lengkap, masih memerlukan waktu pengungkapannya.

2. Kerajaan Talaga

Kerajaan Talaga memang memiliki data-data tertulis sekalipun tidak terlalu lengkap. Selain itu dilengkapi pula adanya sisa-sisa peninggalan kerajaan maupun situs-situs yang dapat dibaca dan cerita rakyat masih terus hidup di kalangan masyarakat. Kerajaan Talaga berdiri 1292 M, yaitu dari Batara Gunung Bitung (R. Syadewata). Ia mempunyai anak bernama R. Darmasuci yang menjadi raja pertama, kemudian diteruskan oleh puteranya bernama Sunan Talaga Manggung. Darmasuci meneruskan ayahnya sebagai Rajaguru Budayasarwatiwada (Mahayana). Kerajaan Hindu ini berlangsung sampai dengan Tahun 1530 ketika rajanya Parung Gangsa. Ketika beliaulah, Kerajaan Talaga masuk Islam dan diberi gelar oleh Gunungjati yaitu Pucuk Umum Talaga. Sekalipun demikian sejarah Talaga ini belum terungkap dengan lengkap.

3. Kerajaan Sindangkasih

Nama Sindangkasih dapat dipastikan diambil dari Mandala Sindangkasih yang pada saat itu dipimpin oleh Ki Ageng Surawijaya. Ki Gede Sindangkasih adalah ayah Nyi Rambut Kasih yang disebut Nyi Gedeng Sindangkasih atau juga Nyi Ambetkasih. Rambutkasih adalah pendiri kerajaan kecil bercorak Hindu bernama Sindangkasih. Sekalipun tidak banyak meninggalkan data-data sejarah, tetapi banyak cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat.

Menurut cerita rakyat Rambutkasih adalah seorang pemberani, memiliki paras yang cantik molek, berambut panjang, bijaksana dan waspada permana tinggal. Oleh karenanya Ia diperistri oleh Prabu Siliwangi Tahun 1482-1521 M. Ia jugalah yang diperintahkan oleh suaminya untuk pindah ke Pakuan dengan pengikut-pengikutnya dan bala tentaranya. Nyi Rambutkasih sangat memperhatikan kemakmuran rakyatnya terutama dalam hal bercocok tanam, sehingga tanahnya subur dan rakyatnya makmur.  Peninggalan Nyi Rambutkasih yang masih utuh adalah paniisan mungkin bekas padepokan dan kemungkinan merupakan tempat menghilangnya Nyi Rambutkasih ketika ditemui Pangeran Muhammad yang disertai oleh ayahnya Pangeran Panjunan. Cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di masyarakat bahwa hilangnya Nyi Rambutkasih, hilang pulalah pohon-pohon maja di Kerajaan Sindangkasih, yang sangat diperlukan oleh semua masyarakat Cirebon untuk ramuan obat malaria yang tengah berkecamuk di Cirebon. Sehingga ada kata Majae langka dan menjadi “Majalengka”. Pada saat itulah terjadi pergantian pimpinan/raja di Majalengka dari Nyi Rambutkasih kepada Pangeran Muhammad. Sekaligus berganti menjadi Majalengka pada Tahun 1490 M serta berpindahnya kepercayaan masyarakat menjadi penganut agama Islam.

4. Pemerintahan Pangeran Muhammad

Kerajaan ini berawal dari terjadinya penggantian pimpinan di Cirebon Tahun 1479 M, yaitu diangkatnya Sunan Gunung Jati sebagai Naradipa Padjadjaran menggantikan Pangeran Pakungwati Cirebon. Kemudian lama kelamaan pengiriman upeti ke Galuh dihentikan, kejadian ini menimbulkan kekecewaan bagi kerajaan hindu lainnya seperti Talaga dan Kuningan. Untuk mengantisipasi kejadian inilah Pangeran Muhammad yang memiliki keahlian mendalang dan disebut juga Pangeran Palakaran Dalang disertai ayahnya Pangeran Panjunan ditugaskan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan ajaran Islam di kawasan barat yang sekaligus merupakan benteng pertahanan bilamana Talaga mengadakan penyerangan. Sehingga dengan modal kemampuan mendalang dan Pangeran Panjunan sebagai Ulama besar penyebaran ajaran Islam di Sindangkasih tidak banyak hambatan. Pangeran Muhammad dilahirkan Tahun 1478 M dari Nyi Mas Matangsari sebagai isteri Pangeran Panjunan, Nyi Mas Matangsari adalah putri dari Ki Ageng Japura, cucu Ki Amukmurigil dan cicit Susul Tunggal yaitu Sang Maha Raja Sunda, sehingga kegiatan Pangeran Muhammad di kawasan Sindangkasih dalam menyebarkan agama Islam tidak dicurigai oleh Galuh karena masih keturunan. Setelah Pangeran Muhammad menggantikan Rambutkasih, maka berdirilah pesantren-pesantren yang semakin marak. Pada Tahun 1504 M Pangeran Muhammad memperistri seorang putri Sindangkasih seorang pemuka agama Islam bernama Siti Armilah. Siti Armilah sangat membantu usaha suaminya dalam menyebarluaskan ajaran Islam di kawasan Majalengka, sehingga memang lebih cepat penyebaran ajaran Islamnya daripada daerah-daerah lainnya. Dari Siti Armilah, Pangeran Muhammad memperoleh putera bernama Pangeran Santri pada Tahun 1505 M. Pangeran Santri memiliki kemampuan yang demikian cerdas dan tangkas, sehingga pada Tahun 1530 M Pangeran Santri diangkat menjadi Raja Sumedanglarang yang berlokasi di Dayeuhluhur Sumedang. Pangeran Santri dan Dewi Setyasih salah seorang puteri dari Parung Gangsa yang menikah dengan Sintawati Mas Patuakan mempunyai putera bernama Pangeran Angkawijaya yang terkenal juga dengan sebutan Geusan Ulun. Geusan Ulun sempat menggantikan ayahnya yaitu Tahun 1881 M, terkenal juga dengan Pajajaran terakhir. Pangeran Muhammad meninggal pada Tahun 1546 M dan dimakamkan di lereng gunung Margatapa sekarang. Adapun Siti Armilah menurut kepercayaan dimakamkan di belakang Pendopo Kabupaten Majalengka sekarang dan terkenal disebut Embah Bodori. Bagaimanapun sejarah Hari Jadi Majalengka masih memerlukan penelusuran terus menerus dalam rangka pengumpulan data kesejarahan, sehingga benar-benar diterima dan dibanggakan oleh seluruh lapisan masyarakat Majalengka khususnya.

Download Artikel Profile Majalengka

Last Updated on Wednesday, 08 June 2016 14:54